Saya masih ingat betul rasanya menggenggam ponsel flagship pertama saya sepuluh tahun lalu. Rasanya mewah, berat di kantong, tapi sekaligus bikin bangga. Nah, perasaan itu muncul lagi waktu saya pertama kali memegang unit Samsung Galaxy S26 Ultra ini sebulan yang lalu. Rasanya beda. Bukan cuma soal material titaniumnya yang makin halus, tapi ada semacam “jiwa” yang biasanya hilang di tengah perlombaan spesifikasi yang gila-gilaan.
Dikutip dari – SamMobile, Samsung memang sengaja mengubah arah strategi mereka tahun ini. Mereka nggak lagi cuma jualan angka di atas kertas. Kalau kalian perhatikan, transisi dari seri S25 ke S26 ini terasa jauh lebih matang. Bukan sekadar ganti baju, tapi perombakan jeroan yang beneran mikirin gimana cara kita pakai HP sehari-hari. Jujur, awalnya saya skeptis, tapi setelah sebulan jadi daily driver, pandangan saya bergeser drastis.
Kenapa desain membulat itu ternyata keputusan jenius?
Kalian pasti sudah tahu kalau Samsung akhirnya membuang desain kotak tajam yang sudah jadi ciri khas seri Ultra sejak era Note dulu. Sekarang sudutnya sedikit membulat. Awalnya fans garis keras protes—termasuk saya. Tapi pas masuk kantong celana Baru kerasa manfaatnya. Tidak ada lagi sudut tajam yang menusuk paha saat duduk. Simpel, tapi krusial buat kenyamanan jangka panjang.
Materialnya masih pakai Titanium Grade 5, tapi finishing-nya dibuat lebih matte. Sidik jari Hampir nggak berbekas. Ini penting lho, karena HP seharga motor matic begini kalau kelihatan kusam karena bekas keringat tangan tuh rasanya sayang banget. Samsung sepertinya mulai paham kalau kemewahan itu nggak harus mengkilap dan teriak-teriak minta perhatian.
Berbicara soal layar, panel Dynamic AMOLED 2X berukuran 6.9 inci ini masih yang terbaik di industri. Menurut data dari DisplayMate, akurasi warna Samsung seri terbaru ini mencapai level yang hampir tidak bisa dibedakan oleh mata manusia dari referensi aslinya. Tingkat kecerahannya tembus 3.000 nits. Pakai di bawah terik matahari Jakarta jam 12 siang Tetap bening. Mata nggak perlu sampai menyipit cuma buat baca chat WhatsApp.
“Teknologi bukan lagi soal siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling mengerti kebutuhan jempol manusia yang lelah.”
— Catatan Redaksi
Snapdragon 8 gen 5: monster yang terlalu jinak?
Jantung pacunya pakai Snapdragon 8 Gen 5. Chipset ini, kalau boleh dibilang, adalah monster. Tapi menariknya, Samsung nggak membiarkan monster ini berlari liar tanpa kendali. Mereka pakai sistem pendingin Vapor Chamber yang 30% lebih luas dibanding tahun lalu. Hasilnya Main Genshin Impact atau rendering video 8K nggak bikin bodi belakang jadi setrikaan dadakan.
RAM 12GB atau 16GB sekarang terasa standar, tapi manajemen memori di One UI 8.1 ini jempolan. Pindah-pindah antar aplikasi terasa instan—kayak buka pintu yang engselnya baru dikasih pelumas. Btw, buat kalian yang sering nanya soal storage, Samsung Indonesia menyediakan varian mulai dari 256GB sampai 1TB. Harganya Siapin mental ya.
Di marketplace lokal kayak Tokopedia dan Shopee, harga resminya dipatok mulai dari Rp23.999.000 untuk varian paling rendah. Mahal Jelas. Tapi kalau kita bandingkan dengan kompetitor terdekatnya, iPhone 17 Pro Max yang rilis akhir tahun lalu, Samsung masih terasa lebih “royal” dalam memberikan fitur produktivitas lewat S Pen-nya. S Pen tahun ini punya latensi yang makin rendah, nulis di layar rasanya makin mirip nulis di atas kertas beneran.
Kamera 320mp: gimmick atau revolusi fotografi?
Nah, ini bagian yang paling ramai dibahas. Sensor utamanya sekarang 320MP. Pertanyaannya: buat apa Emang kita mau cetak foto segede baliho di Bundaran HI Ternyata bukan itu poinnya. Sensor sebesar ini dipakai untuk computational photography yang lebih cerdas. Jadi, meskipun kita cuma ambil foto di kondisi gelap gulita, detailnya tetap dapet tanpa perlu banyak noise.
Saya sempat tes foto malam di area Sudirman. Hasilnya gila sih. Lampu-lampu gedung nggak pecah, dan tekstur aspal tetap kelihatan jelas. Menurut laporan Statista, preferensi konsumen saat ini sudah bergeser dari sekadar “megapiksel besar” ke “kualitas foto low-light yang natural”. Samsung sepertinya membaca data ini dengan sangat jeli.
Fitur zoom 100x masih ada, tapi sekarang jauh lebih stabil berkat OIS (Optical Image Stabilization) yang ditingkatkan. Kalau kalian suka nonton konser di barisan belakang, S26 Ultra ini masih jadi senjata paling ampuh buat “nyolong” muka sang idola tanpa pecah-pecah banget gambarnya. Tapi ya jangan dipakai buat yang aneh-aneh ya, privasi orang tetap nomor satu.
Kenapa AI tahun ini terasa lebih “Manusiawi”?
Galaxy AI sekarang nggak cuma soal terjemahan bahasa atau edit foto buat hapus mantan. Di S26 Ultra, AI-nya sudah masuk ke level manajemen baterai dan sinyal. Dia belajar pola tidur kita, kapan kita butuh performa maksimal, dan kapan HP harus istirahat supaya baterai 5.500mAh-nya bisa tahan sampai dua hari. Ternyata, integrasi yang halus begini jauh lebih berguna daripada fitur AI yang cuma buat pamer doang.
Apakah S26 ultra layak buat upgrade dari S24 ultra?
Kalau budget bukan masalah, jawabannya iya. Peningkatan di sisi kenyamanan genggaman dan efisiensi baterai sangat terasa. Tapi kalau kalian masih pakai S25 Ultra, mungkin bisa tahan dulu setahun lagi karena perbedaannya nggak sejauh itu.
Pertarungan di lini flagship: Samsung vs dunia
Pasar HP di Indonesia sekarang lagi panas-panasnya. Brand Tiongkok kayak Xiaomi dan Oppo mulai berani naruh harga di angka 15-20 jutaan dengan spek yang nggak kalah gahar. Tapi yang bikin Samsung tetap punya tempat spesial adalah ekosistemnya. Samsung DeX, integrasi dengan Galaxy Buds, dan Wearables mereka sudah sangat matang. Susah buat pindah ke lain hati kalau sudah terlanjur “nyemplung” di ekosistem ini.
Laporan Counterpoint Research menunjukkan bahwa loyalitas pengguna Samsung seri flagship terus meningkat di Asia Tenggara, terutama karena dukungan update software yang sekarang dijamin sampai 7 tahun. Ini investasi lho. Beli HP sekarang, masih bisa dapat fitur terbaru sampai tahun 2033. Bayangin aja.
Tapi ya gitu, tantangan terbesarnya tetap di harga. Di Indonesia, dengan uang 24 juta, pilihannya banyak banget. Bisa beli motor listrik, bisa buat DP rumah di pinggiran kota, atau ya itu tadi, beli satu unit S26 Ultra. Ini soal prioritas. Buat mereka yang menjadikan HP sebagai alat kerja utama, harga segini mungkin masuk akal. Buat kaum mendang-mending Pasti bakal jerit-jerit lihat harganya.
Baterai dan pengisian daya: akhirnya ada kemajuan?
Salah satu keluhan abadi pengguna Samsung adalah kecepatan charging yang kalah jauh sama brand sebelah. Tahun ini, Samsung akhirnya memberikan fast charging 65W. Memang belum secepat kilat milik kompetitor yang bisa tembus 120W, tapi setidaknya dari 0 ke 70% cuma butuh waktu sekitar 30 menit. Cukuplah buat ditinggal mandi sebentar terus HP sudah siap diajak tempur lagi.
Daya tahan baterainya sendiri luar biasa. Di penggunaan saya yang cukup moderat; banyak scrolling media sosial, balas email, dan sesekali nonton YouTube; HP ini bisa bertahan sampai jam 10 malam dengan sisa baterai sekitar 25%. Ini peningkatan yang berarti. Ternyata Snapdragon 8 Gen 5 emang bukan cuma soal kenceng, tapi juga soal pinter hemat daya.
Jadi, kesimpulannya gimana Apakah Samsung S26 Ultra ini wajib dimiliki Kalau kalian adalah tipe orang yang menghargai detail kecil, kenyamanan genggaman, dan kualitas layar yang bikin betah berlama-lama, jawabannya adalah iya. Samsung nggak lagi main aman, mereka main cantik. Mereka nggak berusaha jadi yang paling aneh, tapi berusaha jadi yang paling sempurna di hal-hal mendasar.
Pasar gadget tahun 2026 ini makin menarik. Kita nggak lagi cuma bicara soal siapa yang punya kamera paling banyak, tapi siapa yang punya pengalaman pengguna paling mulus. Dan untuk saat ini, menurut saya, takhtanya masih dipegang si raksasa Korea ini. Tinggal kita lihat saja, apakah brand lain punya nyali buat nabrak dominasi ini di sisa tahun berjalan.
Artikel ini bersumber dari berbagai media nasional. Analisis dan penyajian merupakan perspektif editorial kami.