Jujur aja, pas pertama kali buka kotak HP ini minggu lalu, perasaan saya lumayan campur aduk. Di satu sisi, bentuknya masih terasa familiar—terlalu familiar malah. Tapi di sisi lain, begitu layarnya nyala, ada sesuatu yang beda dari cara sistemnya ngerespons sentuhan.
Dikutip dari – SamMobile beberapa bulan sebelum rilis resmi, rumornya Samsung bakal rombak total desain seri Ultra tahun ini. Kenyataannya? Nggak se-ekstrem itu. Bentuknya masih kotak, masih tebal, dan masih terasa seperti “batu bata” premium di tangan. Tapi justru di situlah daya tariknya.
Kita sekarang ada di akhir Februari 2026. Era di mana semua brand teriak soal AI, AI, dan AI. Pertanyaannya sekarang, apakah jeroan fisik masih relevan saat semua hal diproses di cloud? Buat Samsung, jawabannya jelas: hardware tetap raja. Dan setelah pakai HP ini sebagai daily driver, saya mulai paham kenapa mereka keras kepala nahan desain ini.
Realita Harga: Bikin Dompet Menjerit, Tapi…
Bicara soal flagship, kita nggak bisa lepas dari angka. Di Indonesia, harga resmi Galaxy S26 Ultra varian paling bawah (RAM 12GB / Storage 256GB) dipatok di angka Rp 23.999.000. Varian 512GB tembus Rp 25.999.000. Angka yang bikin kita mikir dua kali—ini HP atau DP mobil LCGC?
Barangnya sendiri sudah gampang banget dicari. Kalau kamu buka Tokopedia atau Shopee sekarang, official store Samsung dan distributor resmi udah pada ready stock. Menariknya, di awal peluncuran ini banyak banget promo trade-in yang bikin harganya sedikit lebih masuk akal buat kaum mendang-mending.
Tapi fenomena HP seharga motor ini sebenarnya bukan hal aneh lagi. Laporan pasar dari International Data Corporation (IDC) akhir tahun lalu mengonfirmasi tren unik di Indonesia: pangsa pasar smartphone ultra-premium (di atas Rp 15 juta) justru stabil dan cenderung naik, berbanding terbalik dengan kelas menengah yang berdarah-darah. Orang Indonesia rupanya rela nabung lama demi gengsi dan keawetan.
Kalau dijejerin sama rival abadinya, iPhone 17 Pro Max yang harganya beda-beda tipis, S26 Ultra nawarin proposisi nilai yang beda. iPhone jualan ekosistem tertutup yang seamless. Samsung? Mereka jualan pisau lipat Swiss Army—semua fitur yang mungkin (dan nggak mungkin) kamu butuhin, ada di sini.
Mesin Baru: Snapdragon 8 Gen 5 for Galaxy
Bagian ini yang paling bikin penasaran. Generasi sebelumnya sempat bikin was-was soal suhu, tapi tahun ini beda cerita.
Dapur pacunya pakai Snapdragon 8 Gen 5 for Galaxy. Embel-embel “for Galaxy” ini bukan sekadar gimmick marketing. Ada overclock khusus di prime core-nya yang bikin HP ini ngebut parah. Buka tutup puluhan aplikasi, edit video 4K di jalan, sampai main Genshin Impact dan Honkai Star Rail rata kanan—semuanya lewat tanpa drama frame drop yang berarti.
Suhunya? Hangat, iya. Panas melepuh? Nggak sama sekali. Sistem vapor chamber yang diklaim 1.5x lebih besar dari S25 Ultra beneran kerja keras di balik bodi titaniumnya.
Performa HP ini ibarat bawa mobil sport di kemacetan Jakarta. Kamu tahu tenaganya gila, meski jarang banget kepakai sampai batas maksimalnya.
Menurut data dari situs arsitektur chip Qualcomm, efisiensi daya di Gen 5 ini meningkat sekitar 20% dibanding generasi sebelumnya. Dan ini berdampak langsung ke daya tahan baterainya.
Baterai Badak, Charging… Masih Gitu Aja
Kapasitas baterainya naik sedikit jadi 5.500 mAh. Dipakai dari jam 7 pagi, push email, meeting online, scrolling TikTok tanpa henti, sampai jam 9 malam masih sisa 25%. Buat ukuran layar segede dan seterang ini, itu pencapaian luar biasa.
Sayangnya, Samsung masih super konservatif soal fast charging. Mentok di 45W. Saat brand sebelah dari Tiongkok kayak Xiaomi 15 Ultra udah main di angka 120W, nunggu HP ini penuh dari 0 sampai 100% yang makan waktu sekitar sejam lebih itu rasanya agak… antik. Bukan masalah besar sih, tapi tetap aja kerasa kurang “Ultra” di sektor ini.
Bukti Megapiksel Bukan Segalanya (Lagi)
Dulu, perang HP flagship itu perang megapiksel. Sekarang rules-nya udah ganti total.
Kamera utama masih 200MP. Lensa ultrawide 50MP. Telephoto 50MP (3x) dan periscope 50MP (5x). Di atas kertas, angkanya mirip-mirip tahun lalu. Tapi hasil jepretannya beda jauh, dan rahasianya ada di NPU (Neural Processing Unit) baru yang memproses gambar setelah tombol shutter ditekan.
Riset dari Counterpoint Research belum lama ini menyoroti pergeseran perilaku konsumen. Ternyata 78% pembeli HP flagship sekarang lebih peduli pada konsistensi warna dan kemampuan low-light ketimbang kemampuan zoom sampai bulan. Dan Samsung sepertinya baca data yang sama.
Warna foto yang biasanya terlalu vibrant atau gonjreng ala Samsung—yang bikin rumput kelihatan kayak radioaktif—sekarang jauh lebih natural. Tone kulit manusia terekam akurat tanpa efek beautify lebay. Kamera telephoto-nya? Super stabil. Dipakai rekam video konser dari tribun atas pun hasilnya masih layak banget masuk Reels atau TikTok tanpa kelihatan burik.
Analisis: Siapa yang Sebenarnya Butuh HP Ini?
Beli S26 Ultra di 2026 itu bukan sekadar soal punya HP baru. Ini soal investasi ke alat kerja. S Pen yang tersembunyi di bawah bodi mungkin jarang dipakai sama 80% pembelinya. Tapi buat 20% sisanya—arsitek, desainer, atau editor—ini fitur yang nggak ada matinya.
Sistem Galaxy AI yang makin matang juga ngasih nilai plus. Fitur Live Translate sekarang kerasa lebih organik, nggak kayak robot lagi baca teks. Note Assist bisa ngerangkum meeting panjang dalam hitungan detik. Ini bukan lagi fitur buat pamer ke teman di kafe, tapi beneran alat yang motong waktu kerja.
Tapi, mari kita realistis. Desain yang itu-itu aja mengindikasikan kalau form factor smartphone candybar sebenarnya udah mentok. Inovasi gila-gilaan sekarang pindah ke layar lipat atau kacamata pintar. S-series Ultra bertransisi jadi lini yang “membosankan tapi sangat bisa diandalkan”. Sama kayak Toyota Land Cruiser—kamu tahu persis apa yang kamu dapat, dan kamu tahu itu nggak bakal rusak.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Worth it nggak upgrade dari S24 Ultra atau S25 Ultra?
Kalau kamu pakai S25 Ultra, simpan uangmu. Perbedaannya terlalu minor buat harga yang harus dibayar. Tapi kalau kamu loncat dari S23 Ultra atau malah seri Note lama, HP ini bakal terasa kayak lompatan teknologi beda zaman.
Dapat kepala charger di dalam kotak?
Tentu saja tidak. Cuma dapat kabel Type-C ke Type-C, SIM ejector, dan buku panduan yang nggak pernah dibaca.
Pada akhirnya, Galaxy S26 Ultra mengukuhkan posisinya bukan sebagai HP yang revolusioner tahun ini. Ia hadir sebagai HP yang paling komplit. Besar, berat, mahal, dan overkill buat kebanyakan orang. Tapi buat mereka yang memang butuh semua fitur itu di satu tempat, belum ada alternatif Android lain yang bisa nyamain level keangkuhannya.
Materi bersumber dari berbagai kantor berita. Opini dan analisis merupakan pandangan penulis.