Jujur aja, waktu render desainnya bocor bulan lalu, reaksi pertama saya datar: “Ah, paling bentuknya gitu-gitu lagi.” Dikutip dari SamMobile, Samsung memang tampak bermain aman — nyaris terlalu aman — soal visual eksterior tahun ini. Tapi begitu unitnya mendarat di meja redaksi dua hari lalu dan saya jadikan daily driver sungguhan, ada sesuatu yang bergeser. Sesuatu yang nggak bakal ketahuan cuma dari membaca lembar spesifikasi di layar laptop.
Kita hidup di era di mana siklus ganti HP makin molor. Orang makin ogah tukar device setiap tahun — dan itu bukan sekadar kesan. Menurut laporan Counterpoint Research, rata-rata konsumen global kini menahan HP mereka sampai 40 bulan sebelum beli baru. Angka itu masuk akal. Buat apa merogoh kocek puluhan juta kalau bedanya cuma selisih tipis?
Samsung, tampaknya, sudah memperhitungkan tren itu jauh-jauh hari waktu mereka meracik Galaxy S26 Ultra.
Titanium Kali Ini Bukan Sekadar Label di Brosur
Tahun lalu, material titanium terasa seperti buzzword yang ditempel di press release biar kedengarannya premium. Sekarang? Lain cerita. Mereka benar-benar mematangkan penerapannya — dan dalam praktiknya, perbedaannya terasa di telapak tangan sebelum otak sempat menganalisis. Bingkai pinggirnya lebih membulat di sudut, bikin HP sebesar bata ini jauh lebih nyaman digenggam dalam durasi panjang.
Layar flat-nya — yang syukurnya sudah sepenuhnya bebas dari kutukan desain melengkung itu — membuat pemakaian S Pen terasa logis sampai ke ujung bezel. Kaca Corning Gorilla Armor generasi kedua di bagian depan juga bukan main. Pantulan cahayanya nyaris lenyap. Kalau kamu terbiasa nongkrong di outdoor cafe siang terik, layar S26 Ultra tetap terbaca sejelas halaman buku. Nggak ada lagi akrobat menutupi layar pakai tangan cuma buat balas chat WhatsApp.
Chipset Baru, Tangan Tetap Dingin — Ini Bukan Kebetulan
Soal jeroan, kita masuk ke teritori yang bikin para nerd spesifikasi kegirangan. S26 Ultra di Indonesia resmi masuk dengan Snapdragon 8 Gen 5 for Galaxy di dalamnya. Lupakan memori kelam soal flagship yang panas seperti setrika. Vapor chamber di seri ini dikembangkan hingga 1,5 kali lebih besar dari generasi sebelumnya — dan skalanya terasa.
Saya iseng tes dengan main Genshin Impact sekaligus Zenless Zone Zero, keduanya di pengaturan grafis tertinggi, selama satu jam penuh tanpa jeda. Hasilnya? Hangat wajar. Bukan panas menyengat. Nggak ada frame drop parah yang biasanya muncul di menit ke-20 sesi gaming marathon. Benchmark sintetisnya memang mencetak angka yang menembus langit, tapi performa real-world seperti inilah yang sebenarnya relevan buat pengguna harian.
“Kita sudah lewat masa di mana produsen cuma jualan angka clock-speed. Pertarungan sebenarnya tahun ini ada di efisiensi termal dan seberapa pintar AI mengelola resource baterai tanpa mengorbankan performa.”
— Analis Perangkat Keras Independen
Varian paling terjangkau mulai dari RAM 12GB dengan storage 256GB. Tapi kalau niatnya memakai HP ini tiga sampai empat tahun ke depan, langsung hajar varian 16GB/512GB. Alasannya sederhana: fitur AI generatif butuh RAM besar untuk menjalankan proses secara on-device — dan kebutuhan itu hanya akan tumbuh, bukan menyusut.
Galaxy AI Sudah Lulus Masa Percobaan
Waktu Galaxy AI pertama kali rilis beberapa tahun lalu, rasanya masih canggung. Dipaksakan hadir. Seperti fitur yang ada karena tuntutan slide presentasi, bukan karena benar-benar siap. Kini integrasinya jauh lebih organik — nyaris tak terasa sebagai tambahan terpisah.
Live Translate sekarang mendukung lebih banyak dialek, bahkan cukup akurat menangkap bahasa gaul Indonesia yang seringkali bikin mesin terjemahan lain kelimpungan. Note Assist untuk merangkum meeting juga makin cerdas dalam memisahkan suara antar pembicara — sesuatu yang, dalam praktiknya, menghemat waktu lebih dari yang kamu bayangkan. Per proyeksi Gartner, pengiriman smartphone yang dilengkapi GenAI tembus 240 juta unit di akhir 2025. S26 Ultra jelas masuk hitungan sebagai salah satu yang menetapkan standar kompetisi.
Fitur yang paling sering saya buka justru Circle to Search versi terbaru. Bukan sekadar pencarian produk lagi — sekarang bisa langsung menyelesaikan persamaan matematika kompleks atau menerjemahkan teks di dalam video YouTube yang sedang diputar, tanpa harus menekan tombol pause. Kecil? Iya. Tapi akumulasi hal-hal kecil seperti itulah yang bikin HP ini terasa berbeda setelah seminggu dipakai.
Lensa Telephoto yang Akhirnya Menepati Janjinya
Sekilas, susunan kamera belakangnya terasa familiar. Sensor utama 200MP masih bercokol di posisinya. Tapi rahasianya tersimpan di algoritma ProVisual Engine yang diperbarui — dan perbedaannya baru kelihatan begitu kamu mulai memotret di kondisi yang menantang.
Penggemar konser, perhatikan ini. Lensa periskop 50MP dengan 5x optical zoom kini menghasilkan jepretan di rentang 10x hingga 30x yang benar-benar layak pakai. Noise-nya minim. AI-nya cukup cerdas membaca tekstur kain atau detail wajah artis di atas panggung, lalu menghasilkan upscaling yang terasa alami — bukan efek cat air yang pernah menghantui HP keluaran dua tahun lalu.
Transisi antar lensa saat merekam video, dari ultrawide ke telephoto, berjalan mulus tanpa lompatan patah-patah yang biasanya mengkhianati rekaman amatir. Sayangnya — dan ini pengecualian yang cukup mencolok — soal fast charging, Samsung masih keras kepala bertahan di 45W. Di saat brand-brand China sudah berlomba di angka 100W ke atas, menunggu sejam lebih untuk mengisi baterai 5000mAh terasa seperti keputusan desain dari era yang berbeda. Apakah ini trade-off yang bisa kamu toleransi? Bergantung seberapa sering kamu lupa colok charger malam hari.
Harga Resmi Lokal: Investasi Jangka Panjang atau Sekedar Gengsi?
Nah. Ini bagian yang bikin napas sesak sejenak.
Harga resmi Samsung Galaxy S26 Ultra di Indonesia dibanderol mulai dari Rp 23.999.000 untuk varian 12/256GB. Varian 16/512GB bertengger di angka Rp 25.999.000. Mahal? Tanpa ragu. Tapi konteks pasarnya perlu dilihat lebih utuh. iPhone 17 Pro Max, kompetitor paling langsung, justru berani mulai di atas 25 juta untuk kapasitas serupa. Di sisi lain, Xiaomi 15 Ultra hadir dengan setup kamera Leica yang agresif di kisaran 19 jutaan — menekan S26 Ultra dari bawah dengan cukup serius.
S26 Ultra menyelip di tengah-tengah dua tekanan itu, membawa keunggulan S Pen dan ekosistem DeX yang sampai sekarang belum punya tandingan setara di kelas yang sama.
Pantauan saya di Tokopedia dan Shopee minggu ini: stok di official store masih tersedia, meski warna eksklusif seperti Titanium Green sudah memasuki antrean pre-order kloter kedua. Promo trade-in di Samsung Store juga sedang berjalan agresif — pemilik S24 Ultra atau S23 Ultra bisa menekan harga efektifnya ke kisaran belasan juta. Itu angka yang mengubah kalkulasi secara cukup signifikan.
Yang Sering Ditanyain (FAQ)
Q: Worth it nggak upgrade dari S24 Ultra?
A: Kalau unitmu masih prima, tahan dulu. S24 Ultra masih lebih dari cukup untuk dua tahun ke depan. S26 Ultra ini lebih tepat sasaran untuk pengguna S22 Ultra atau Note 20 yang mulai merasakan respons perangkatnya melambat.
Q: Baterainya beneran awet seharian?
A: Dengan pemakaian normal — media sosial, Spotify, balas email, sesekali memotret — cabut charger jam 7 pagi, jam 8 malam masih menyisakan sekitar 30%. Efisiensi chipset baru ini bukan klaim kosong.
Q: Layar datarnya bikin gampang kepencet pinggirannya nggak?
A: Sama sekali tidak. Justru sebaliknya: grip terasa lebih mantap, dan memasang tempered glass jadi urusan yang jauh lebih mudah.
Sempurna Itu Membosankan — dan Itu Justru Poinnya
Beberapa hari memakai S26 Ultra membawa saya ke satu kesimpulan yang agak tidak terduga. Industri mobile mungkin sudah menyentuh batas atas dari sisi form factor layar sentuh konvensional. Bukan berarti stagnan — tapi ruang untuk kejutan dramatis makin sempit.
HP ini nyaris sempurna. Terlalu sempurna, bahkan. Dan ironisnya, itulah yang membuatnya sedikit membosankan bagi mereka yang hobi menguntit perkembangan gadget setiap minggu. Nggak ada momen “wow” yang bikin dagu jatuh. Yang ada hanya penyempurnaan berlapis di atas formula yang sudah terbukti laku keras.
Tapi buat konsumen kebanyakan? Ini justru kabar yang patut disambut. Kamu membeli kepastian — bukan eksperimen. S26 Ultra bukan alat uji coba yang akan membuatmu galau dengan bug software atau kekhawatiran soal daya tahan hardware. Ini mesin kerja tangguh, kamera saku kelas premium, dan asisten AI yang makin dewasa, semuanya dipadatkan dalam satu blok titanium yang terasa solid di genggaman.
Pilihan akhirnya ada di tangan masing-masing. Mau terus ikut arus upgrade tahunan yang menguras dompet secara konsisten, atau berinvestasi sekali di perangkat kelas berat yang dirancang untuk bertahan bertahun-tahun? Bukan pertanyaan yang punya jawaban tunggal. Tapi setidaknya, S26 Ultra membuat argumen keduanya terdengar jauh lebih masuk akal dari sebelumnya.
Dikompilasi dari liputan berbagai media. Komentar editorial mencerminkan perspektif redaksi kami.