Jujur saja — waktu pertama kali membuka boksnya, rasanya seperti déjà vu yang datang tanpa diundang. Memegang HP ini berasa memegang seri dari dua tahun silam. Bodinya nyaris identik. Beratnya cuma beda beberapa gram. Dikutip dari SamMobile, Samsung memang sengaja bermain sangat aman soal bahasa desain tahun ini. Tapi tunggu dulu. Jangan keburu menghakimi dari sampulnya.
Begitu layar menyala, ceritanya langsung berubah total. Jeroannya yang bikin HP ini ngeri.
Tahun 2026 menjadi titik balik industri mobile. Pabrikan mulai sadar kalau konsumen sudah muak dengan gimmick desain lipat yang rapuh atau modul kamera sebesar piring makan. Kita butuh alat kerja yang tahan banting, pintar, dan tidak rewel. Di sinilah sang monster baru dari Korea Selatan ini mengambil panggung.
Desain yang Membosankan Itu Justru Strategi Paling Cerdas Samsung
Kita bahas spek mentahnya dulu. Pertarungan flagship sekarang bukan lagi soal siapa yang punya megapixel paling besar — dan sudah lama bukan tentang itu. Otak utamanya menggunakan Snapdragon 8 Gen 5 for Galaxy, sebuah chipset yang dirancang khusus dengan clock speed yang sedikit dipaksa naik dibanding versi standarnya. Hasilnya? Ngebut parah.
RAM langsung disikat 16GB untuk varian paling bawah. Tamat sudah era RAM 12GB di HP kasta tertinggi. Untuk urusan simpan data, storage UFS 4.1 membuat proses baca-tulis file video 8K beres dalam hitungan detik. Multitasking tiga aplikasi berat sekaligus berjalan seperti mentega — dalam praktiknya, tidak ada satu pun jeda yang terasa mengganggu.
Ada alasan logis kenapa Samsung mempertahankan bentuk yang itu-itu saja. Menurut laporan Counterpoint Research pada awal tahun ini, siklus ganti HP konsumen global sekarang molor menjadi rata-rata 43 bulan. Orang makin enggan ganti HP tiap tahun — dan Samsung, tampaknya, sudah mengkalkulasi itu jauh sebelum kita sadari.
Makanya, mereka merancang hardware yang secara kasat mata ‘boring’ tapi punya ketahanan jangka panjang yang tidak bisa diremehkan. Bodinya dibalut titanium grade 5 yang lebih kebal goresan. Layarnya dilindungi Gorilla Glass Armor generasi kedua. Pantulan cahaya di layar nyaris nol. Diuji langsung di bawah terik matahari Jakarta jam 12 siang, teks di layar tetap sejelas membaca buku cetak.
Baterainya? Tetap 5000 mAh. Tapi efisiensi chip barunya mendorong screen-on time sampai 9 hingga 10 jam — angka yang konsisten bahkan saat dipakai untuk sesi editing foto panjang. Fast charging sayangnya masih mentok di 45W. Agak gemas memang kalau dibanding merek Tiongkok yang sudah menembus 120W atau bahkan 200W. Sejam menunggu baterai penuh kadang terasa lama. Tapi mungkin ini kompromi terencana demi menjaga kesehatan sel baterai hingga tiga atau empat tahun ke depan — sebuah kalkulasi yang masuk akal, walau tidak seksi.
Kamera yang Sama di Atas Kertas, Berbeda Dunia di Lapangan
Kalau kamu berharap ada lensa baru yang revolusioner, siap-siap kecewa. Konfigurasi kameranya masih serupa: sensor utama 200MP, ultrawide 12MP, telephoto 50MP (5x optical), dan telephoto 10MP (3x optical). Di atas kertas, biasa saja. Tidak ada yang membuat dada berdegup.
Coba pakai buat memotret, dan narasi itu langsung runtuh. Prosesor gambar (ISP) terbaru yang dikawinkan dengan neural engine menghasilkan jepretan yang luar biasa instan. Tidak ada lagi jeda shutter lag yang sering membuat kita kehilangan momen candid terbaik.
Era spesifikasi kamera mentah sudah selesai. Kita sekarang masuk ke fase di mana perangkat lunak dan AI adalah lensa utama yang sebenarnya.
Ulasan Pakar Fotografi Digital
Kamera 50MP-nya kini berperan sebagai all-rounder yang tidak kenal kompromi. Zoom sampai 10x atau 30x pun, AI langsung bekerja diam-diam di latar belakang — membersihkan noise, merapikan tekstur, menajamkan garis. Berdasarkan standar pengujian DXOMARK, kemampuan render warna kulit di kondisi minim cahaya pada sensor terbaru ini memecahkan rekor akurasi tertinggi tahun ini. Bukan klaim kecil.
Dibandingin Kompetitor, di Mana Posisinya?
Buat kamu yang sedang galau memilih arah. Apple dengan iPhone 17 Pro Max-nya memang menawarkan ekosistem yang sangat rapi dan perekaman video yang masih sedikit lebih superior — itu fakta yang tidak perlu diperdebatkan. Tapi untuk urusan produktivitas brutal? S Pen di perangkat ini belum punya lawan yang sepadan.
Mencatat hasil meeting, menandatangani dokumen PDF dadakan di taksi, sampai menyeleksi objek foto untuk dijadikan stiker WhatsApp — semuanya terasa natural. Bukan sekadar fitur yang dijejalkan untuk terlihat canggih. S Pen sudah lama bukan tongkat plastik ekstra; ia adalah alat kerja esensial yang mengubah cara orang berinteraksi dengan layar.
Galaxy AI Bukan Lagi Jargon — Ini Sudah Jadi Tulang Punggung Perangkat
Nah. Ini alasan sesungguhnya kenapa harganya ada di angka segitu.
Tahun lalu, fitur AI masih terasa seperti mainan baru yang seru tapi jarang disentuh setelah minggu pertama. Di One UI 8.1, semuanya sudah terjalin mulus ke dalam alur penggunaan sehari-hari. Kemampuan on-device AI-nya bekerja tanpa suara, tanpa unjuk gigi. Kamu tidak butuh koneksi internet untuk menerjemahkan percakapan telepon secara real-time atau merapikan catatan suara yang durasinya satu jam lebih — dan itu, dalam kenyataannya, terasa seperti sihir.
Data dari lembaga riset Gartner memprediksi pengiriman smartphone dengan kemampuan AI generatif bawaan akan menguasai 45% pasar sepanjang 2026. Samsung jelas memimpin gelombang ini, bukan sekadar ikut-ikutan.
Fitur Generative Edit di galeri sekarang kerjanya sangat halus — halus sampai terasa curang. Mau menghapus tukang bakso yang menerobos masuk ke latar belakang foto liburanmu? Lingkari, tunggu 3 detik, hilang tanpa meninggalkan jejak piksel yang smudgy. AI-nya pun menganalisis kebiasaan penggunaan baterai dengan agresivitas yang mengejutkan, mematikan background app yang diam-diam menggerogoti daya tanpa sepengetahuan kamu.
Pertanyaan Seputar Ketersediaan
Apakah fitur AI ini gratis selamanya?
Samsung menjanjikan fitur dasar Galaxy AI gratis hingga akhir 2027. Setelah itu, beberapa fitur pemrosesan cloud tingkat lanjut kemungkinan membutuhkan skema langganan bulanan.
Berapa lama jaminan update software-nya?
Tujuh tahun. Artinya perangkat ini masih akan menerima update OS Android dan security patch sampai tahun 2033 — sebuah komitmen yang, secara jujur, belum banyak ditandingi kompetitor kelas manapun.
Rp 24 Juta untuk Apa, Tepatnya? Kita Hitung Bersama
Sekarang kita masuk ke bagian yang paling bikin napas tertahan. Dompet.
Samsung Electronics Indonesia membanderol perangkat ini mulai dari Rp 23.999.000 untuk varian paling standar dengan kapasitas penyimpanan 256GB. Kalau butuh yang 512GB, siapkan dana sekitar Rp 25.999.000. Tersedia dalam pilihan warna Titanium Black, Titanium Gray, dan warna eksklusif Titanium Blue yang hanya bisa diburu secara online.
Perangkat ini sudah rilis resmi secara nasional. Dicek hari ini di official store Tokopedia atau Shopee, stoknya terpantau aman — tidak ada kepanikan antrian virtual seperti peluncuran-peluncuran sebelumnya. Sejumlah toko ritel offline juga sudah memajang unit demo untuk dicoba langsung.
Satu saran praktis: rajin-rajin pantau marketplace. Promo cashback bank atau program trade-in bisa lumayan menutup selisih harga yang terasa berat di awal. Dan ya — sampai detik ini, kepala charger masih dijual terpisah. Menyebalkan? Tentu. Tapi rupanya tidak ada yang cukup marah untuk menghentikan kebiasaan industri ini.
Beli atau Tahan? Jawabannya Tergantung HP Apa yang Sedang Kamu Pegang
Mari kita bersikap realistis — tanpa basa-basi.
Kalau kamu saat ini masih memegang S24 Ultra atau S23 Ultra, tahan dulu hasrat itu. HP kamu masih sangat mumpuni. Perbedaannya tidak akan cukup terasa untuk pemakaian harian yang kasual, dan uang dua puluh jutaan lebih bijak diinvestasikan atau dialihkan ke kebutuhan yang lebih mendesak.
Tapi ceritanya berbeda kalau kamu hendak melompat dari seri S22 Ultra, seri Note lama, atau — lebih jauh lagi — beralih dari ponsel kelas menengah seri A. Perbedaannya bukan gradual. Upgrade ke perangkat ini bakal terasa seperti pindah dari mobil manual tua ke mobil listrik sport: semuanya instan, semuanya mulus, dan kamu akan heran kenapa tidak melakukannya lebih cepat.
HP ini bukan tentang revolusi visual. Bukan tentang angka megapixel atau desain yang memancing decak kagum. Ini tentang evolusi cara kita berinteraksi dengan selembar kaca — sebuah alat yang lebih sering bekerja di latar belakang, mempermudah hidup penggunanya tanpa banyak gaya, tanpa perlu tepuk tangan.
Dan kadang, itu justru yang paling sulit dibuat.
Dikompilasi dari liputan berbagai media. Komentar editorial mencerminkan perspektif redaksi kami.