Pernah nggak sih kamu ngerasa ada yang aneh? Kamu bela-belain beli HP Android dengan harga selangit, terus pas buka aplikasi favoritmu — eh, tampangnya malah mirip iPhone. Dikutip dari tulisan opini di Android Authority pertengahan 2026 ini, fenomena itu nyatanya makin parah dari bulan ke bulan. Makin banyak developer yang terang-terangan mengadopsi bahasa desain “Liquid Glass” khas Apple, lalu memaksanya masuk ke ekosistem Google tanpa rasa bersalah.
Menyebalkan. Betul-betul menyebalkan.
Flagship Android Rp 18 Juta, Rasanya Pakai iOS Gratisan
Alasan utama kita pilih kubu robot hijau biasanya bermuara pada dua hal: jeroan yang ganas dan kebebasan kustomisasi yang nggak ada duanya. Bayangkan skenario ini. Baru aja kamu checkout HP flagship terbaru — Samsung Galaxy S26 atau Xiaomi 16, misalnya — di official store Tokopedia. Harganya tembus Rp 15–18 jutaan, dan kamu nggak nyesel-nyesel amat karena speknya memang tidak main-main.
Chipset Snapdragon 8 Gen 4 (atau Elite), RAM 12GB sampai 16GB, memori UFS 4.0 yang lajunya bikin pusing, dan setup kamera yang bikin kompetitor di kisaran harga sama keringat dingin. Belum lagi fast charging 120W yang sanggup mengisi baterai 5000mAh dari kosong sampai penuh hanya dalam setengah jam. Dari sisi perangkat keras, ini kemenangan telak.
Tapi begitu HP-nya dinyalakan dan kamu mulai mengunduh aplikasi buat kerja sehari-hari, realitasnya menohok. Buat apa layar AMOLED 120Hz yang memanjakan mata kalau tampilan aplikasinya justru terasa seperti iOS versi KW yang dipaksakan?
Obsidian, Telegram, dan Wabah Estetika yang Salah Alamat
Salah satu tersangka utamanya adalah Obsidian. Aplikasi note-taking yang sedang naik daun ini baru saja mendapat pembaruan besar — dan tampilannya, sejujurnya, berteriak “iOS!” dari sudut ke sudut layar. Tombol melayang berbentuk lingkaran sempurna di pojok bawah, floating bar dengan efek blur khas Liquid Glass, warna yang diminimalkan sampai hampir steril. Semuanya plek-ketiplek dari buku panduan desain Apple. Dalam praktiknya, aplikasinya tetap terasa snappy dan responsif — tapi mbok ya ada sedikit niat gitu buat bikin penggunanya sadar mereka sedang pakai Android, bukan iPhone.
Google sebenarnya sudah menyiapkan senjata yang brilian lewat Material You — sistem color theming yang warnanya bisa menyesuaikan diri dengan wallpaper atau suasana hati kita. Saya sendiri ganti tema HP minimal sebulan sekali, ngikutin musim atau momen tertentu. Aplikasi bawaan seperti Gmail dan Google Messages beradaptasi dengan warna-warna aksen itu secara mulus dan natural. Sayangnya, fitur sekeren ini dicuekin habis-habisan oleh developer pihak ketiga — seolah tak pernah ada.
Menggunakan elemen antarmuka iOS di platform Android bukan sekadar masalah estetika, ini merusak memori otot (muscle memory) pengguna yang sudah terbiasa dengan navigasi native sistem mereka.
Kasus Telegram lebih menggelikan lagi. Alih-alih memilih satu arah desain, aplikasi chatting populer ini malah tampak kebingungan di persimpangan. Perhatikan versi Android-nya sekarang: chat personal masih mengusung desain lama Telegram yang familiar. Tapi begitu kamu melompat ke bagian Channels, top bar-nya mendadak bermetamorfosis jadi sesuatu yang terasa sangat iOS. Perpaduan Liquid Glass dengan sistem desain internal mereka sendiri ini — jujur saja — bikin sakit mata. Animasinya tetap mulus, performanya tidak ada keluhan, tapi identitas visualnya? Tak jelas mau ke mana.
Di Balik Layar: Pilihan Bisnis yang Masuk Akal, tapi Tetap Mengecewakan
Kenapa tren ini bertahan terus sampai sekarang? Jawaban paling jujurnya cuma satu kata: duit.
Membangun aplikasi itu mahal. Mempertahankan dua tim desain yang benar-benar terpisah untuk Android dan iOS membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit. Menurut data dari Statista, Android masih mendominasi pangsa pasar sistem operasi mobile global dengan porsi sekitar 70%. Tapi rahasia umumnya — yang semua orang di industri tahu — pengguna iOS jauh lebih rajin belanja di dalam aplikasi (in-app purchases). Angkanya cukup signifikan untuk mengubah prioritas desain sebuah perusahaan.
Maka jalan pintasnya jelas: bikin desain untuk iOS lebih dulu, lalu porting ke Android dengan penyesuaian seadanya. Cepat. Murah. Dan sayangnya, lumrah.
Ada catatan penting di sini, sih. Sebenarnya sah-sah saja kalau sebuah perusahaan memilih sistem desain kustom mereka sendiri demi konsistensi branding di semua platform. Robinhood adalah contoh yang pas. Kamu tidak akan menemukan jejak Liquid Glass maupun Material Design di aplikasinya — mereka membangun antarmuka kustom yang konsisten, entah dibuka dari iPhone maupun HP Android kelas atas. Tapi membangun desain kustom yang benar-benar bagus seperti itu butuh modal yang tidak kecil, dan tidak semua studio pengembang punya kemewahan itu.
Material 3 Expressive: Janji Besar yang Terkubur Diam-diam
Yang paling menyedihkan dari tren ini adalah matinya potensi desain Google sendiri. Ingat waktu Google pertama kali memamerkan Material 3 Expressive beberapa tahun lalu? Konsepnya berani, bahkan sedikit menggetarkan. Estetikanya dinamis, sangat responsif terhadap konteks, dan terasa personal dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya.
Lihat kondisinya sekarang. Sudah 2026, dan janji manis itu nyaris tak berbekas di permukaan. Yang ironis — dan agak memalukan — bahkan aplikasi bikinan Google sendiri masih sering kebingungan menerapkan standar desain barunya secara merata di semua produk mereka. Kalau penciptanya saja tidak konsisten, harapan apa yang bisa kita tumpukan ke developer pihak ketiga?
Ekosistem Android perlahan kehilangan wajahnya sendiri. Kita sebagai pengguna cuma bisa pasrah disuguhi antarmuka hasil “daur ulang” dari platform sebelah — dan itu bukan kiasan yang berlebihan. Apakah ini salah penggunanya yang tak cukup vokal? Atau salah Google yang terlalu pasif membiarkan standarnya terkikis? Dua-duanya, mungkin. Kalau Google tidak segera mengambil langkah konkret — misalnya dengan memberi insentif nyata bagi developer yang benar-benar menerapkan Material Design — jangan kaget kalau beberapa tahun lagi, satu-satunya perbedaan antara Android dan iPhone cuma logo kecil di bodi belakangnya. Itu saja.
Pertanyaan Seputar Desain Aplikasi
Apa itu bahasa desain Liquid Glass?
Itu adalah gaya visual khas Apple (iOS) yang banyak mengandalkan efek transparansi, blur (frosted glass), bayangan halus, dan sudut sangat membulat pada elemen antarmukanya.
Kenapa developer lebih suka desain iOS?
Selain alasan efisiensi biaya pengembangan lintas platform, banyak desainer UI/UX memang menjadikan iOS sebagai “kanvas dasar” standar mereka sebelum memindahkannya ke Android — kebiasaan industri yang sudah mengakar cukup dalam.
Apakah pengguna bisa mengubahnya?
Beberapa aplikasi mendukung tema pihak ketiga, namun secara umum, tata letak inti aplikasi — posisi tombol, pola navigasi — sudah dikunci keras oleh developer dari sisi kode mereka.
Materi bersumber dari berbagai kantor berita. Opini dan analisis merupakan pandangan penulis.