Krisis Identitas: Kenapa Desain Aplikasi Android Makin Mirip iOS?

Bayangkan skenario ini. Kamu baru saja menyelesaikan transaksi HP flagship terbaru di Tokopedia — harganya cukup bikin rekening mengernyit, di kisaran Rp 15 hingga 20 jutaan. Spesifikasinya brutal: Snapdragon 8 Gen 3 di dapur pacu, RAM 12GB, storage UFS 4.0, layar AMOLED 120Hz, ditambah fast charging 120W yang bisa ngecas penuh cuma dalam waktu kamu mandi. Ini, secara teknis, adalah puncak evolusi Android.

Tapi begitu HP menyala dan kamu membuka beberapa aplikasi favorit, ada sesuatu yang mengganjal. Estetikanya terasa asing. Tombol-tombolnya salah tempat. Perlahan kamu sadar — aplikasi yang sedang berjalan di atas mesin Android super kencang ini, secara visual, sedang bersusah payah berpura-pura menjadi sebuah iPhone.

Laporan yang dikutip dari Android Authority menyoroti fenomena yang makin sulit diabaikan ini. Banyak developer aplikasi Android kini lebih memilih bahasa desain Apple — yang dikenal dengan sebutan Liquid Glass — ketimbang mengadopsi Material 3 Expressive milik Google. Hasilnya? Pengalaman pengguna yang terasa terusir di rumahnya sendiri.

Kalau saya memang ingin antarmuka Liquid Glass, saya sudah beli iPhone 15 atau 16 di official store sejak lama. Saya memilih Android justru karena kebebasan kustomisasinya. Sayangnya, para developer sepertinya punya agenda tersendiri — dan agenda itu tidak berpihak pada pengguna Android.

Aplikasi Android yang Malu Jadi Dirinya Sendiri

Persoalannya bukan pada kustomisasi pihak ketiga. Kalau kamu pasang launcher buatan komunitas untuk membuat HP kamu tampil seperti iOS, itu hak prerogatifmu sepenuhnya. Masalah sesungguhnya muncul ketika developer aplikasi menjadikan estetika Apple sebagai standar default untuk versi Android mereka — tanpa tanda tanya, tanpa kompromi.

Ambil Obsidian sebagai contoh yang paling gamblang. Aplikasi pencatat populer ini mendapat pembaruan besar-besaran tahun lalu, dan antarmukanya seolah berteriak: “Saya lahir di Cupertino.” Tombol melayang berbentuk lingkaran di sudut atas layar, floating bar di bawah, minimnya permainan warna aksen — semuanya disalin langsung dari buku panduan desain Apple.

Baca Juga  Dilema Android 16: Fitur Live Updates yang Jenius Tapi Terancam Sepi Peminat

Harus diakui, dalam praktiknya Obsidian berjalan dengan sangat snappy dan ringan. Animasi transisinya mulus, tidak memicu frame drop meski RAM perangkat kamu hanya 8GB. Tapi alangkah lebih bermartabatnya kalau ada sedikit upaya untuk membuatnya terasa membumi di ekosistem Android — bukan sekadar tamu yang lupa pulang.

Padahal solusinya tidak menuntut perombakan total. Untuk membedakannya dari standar Apple, developer cukup mengubah bentuk tombol melayang di atas layar. Ambil saja inspirasi dari aplikasi Screenshots bawaan Google — pipihkan sedikit lingkarannya, hilangkan bayangan tebal di bawahnya, biarkan tampil flat ala Android sejati. Tidak mahal. Tidak sulit.

Google sudah menyiapkan sistem Material You yang brilian untuk ini. Sistem tersebut secara otomatis menarik palet warna dari wallpaper pengguna dan menyuntikkannya ke seluruh antarmuka sistem. Aplikasi seperti Gmail dan Google Messages menjalankan sistem ini dengan sangat elegan. Bayangkan seandainya Obsidian membiarkan warna tombol mereka mengikuti sistem warna perangkat penggunanya — pengalamannya pasti jauh lebih imersif, jauh lebih terasa seperti milik kamu.

Telegram dan Krisis Kepribadian yang Tidak Perlu Terjadi

Kalau Obsidian terang-terangan meniru iOS, Telegram punya masalah identitas yang jauh lebih parah. Lebih kacau. Lebih membingungkan.

Aplikasi chatting raksasa ini seolah tidak mampu memutuskan apakah mereka hendak memeluk Liquid Glass, Material Design, atau sesuatu yang benar-benar asing dari galaksi lain. Pembaruan desain terbaru mereka untuk Android sekilas tampak seperti versi lite dari aplikasi iOS mereka — tapi begitu ditelisik lebih dalam, situasinya makin absurd.

Obrolan personal masih mempertahankan desain lawas Telegram di bagian atas layar. Namun begitu kamu melompat ke Channels — fitur broadcast andalan mereka — bar atasnya mendadak berganti rupa mengadopsi bahasa desain iOS. Dalam satu aplikasi. Dalam satu sesi. Ini bukan inkonsistensi kecil; ini disorientation.

Tidak ada yang salah dengan menciptakan sistem desain sendiri. Tapi mencampuradukkan panduan Apple ke dalam Android hanya akan mengorbankan identitas visual platform tersebut.

Telegram selama ini dikenal sebagai perusahaan yang design-forward — animasi mereka kerap dijadikan benchmark industri. Justru itulah yang membuat percampuran antara Liquid Glass dan sistem desain proprietary ini terasa begitu mengecewakan. Aplikasinya memang berfungsi tanpa bug berarti, tapi feel-nya jelas bukan Android. Sama sekali bukan.

Baca Juga  Pixel 9 Akhirnya Bisa "AirDrop": Runtuhnya Tembok Ego Google-Apple?

Ada satu pengecualian yang layak disebut: Robinhood. Buka aplikasi mereka di platform mana pun, dan kamu tidak akan menemukan jejak Liquid Glass maupun Material 3. Yang tersaji adalah desain khas Robinhood yang konsisten, solid, dan tidak meminta maaf kepada siapa pun. Begitulah seharusnya komitmen terhadap identitas brand dijalankan.

Ketika Efisiensi Finansial Mengorbankan Pengguna Android

Kita harus realistis. Mengapa fenomena ini makin merajalela? Jawabannya klasik: uang dan waktu — dua hal yang tidak pernah cukup di industri teknologi.

Membangun dua aplikasi native terpisah untuk iOS dan Android membutuhkan sumber daya yang masif. Dua tim engineer, dua siklus Quality Assurance, biaya maintenance yang berlipat ganda. Berdasarkan Stack Overflow Developer Survey terbaru, penggunaan framework cross-platform seperti React Native dan Flutter terus mendominasi justru karena efisiensinya yang sulit dibantah.

Banyak bisnis ingin memangkas pengeluaran. Satu basis kode dengan satu panduan desain visual untuk semua platform adalah jalan pintas yang paling rasional secara finansial. Dan karena pengguna iOS secara historis — menurut berbagai laporan industri — dinilai memiliki spending power lebih tinggi, desain aplikasi pun seringkali dioptimalkan untuk standar Apple terlebih dahulu, lalu di-port mentah-mentah ke Android tanpa adaptasi berarti.

Tapi apakah ini adil untuk pengguna Android? Menurut data StatCounter, per 2025 Android masih menguasai lebih dari 80% pangsa pasar sistem operasi mobile di Indonesia. Mengabaikan pengalaman visual mayoritas pengguna — demi kemudahan tim produk di sisi lain — jelas bukan strategi jangka panjang yang sehat. Tidak untuk pengguna, dan sebenarnya tidak untuk bisnis itu sendiri.

Telegram, perlu ditegaskan, bukanlah developer indie yang kekurangan dana. Mereka memiliki sumber daya yang sangat besar. Fakta bahwa mereka memilih setengah-setengah di Android — sementara versi iPhone mereka dengan sigap mengikuti guideline Liquid Glass terbaru — terasa seperti tamparan yang disengaja.

Baca Juga  Android 17 Beta 1 Rilis: Google Makin Sat-Set atau Malah Semrawut?

Google Tidak Bisa Lepas Tangan dari Masalah Ini

Di sisi lain, menyalahkan developer pihak ketiga saja terlalu mudah. Google, sebagai pemilik ekosistem ini, juga punya pekerjaan rumah yang belum selesai — dan cukup besar.

Ketika Google mengumumkan Material 3 Expressive, mereka memamerkan konsep visual yang berani dan segar. Estetikanya dinamis, modern, dan sangat menjanjikan. Namun — nyaris setahun setelah pengumuman itu — penerapannya di lapangan terasa seperti janji yang menguap di udara.

Bahkan aplikasi-aplikasi internal Google sendiri lambat mengadopsi bahasa desain baru ini. Kalau si pembuat aturan saja terlihat ragu-ragu dan lamban dalam menerapkan standarnya sendiri, bagaimana kita bisa berharap developer eksternal untuk ikut patuh? Pertanyaan retoris, memang — tapi jawabannya menyakitkan.

Material 3 Expressive sebenarnya punya potensi besar untuk mengembalikan jiwa Android yang mulai pudar. Sistem warna dinamis, geometri bentuk yang responsif terhadap interaksi pengguna, tipografi yang berkarakter — semua ini adalah amunisi nyata untuk melawan hegemoni desain monokromatik ala iOS. Senjatanya sudah ada. Tinggal kemauan untuk menggunakannya.

Saya hanya minta sedikit rasa hormat untuk ekosistem ini. Kalau saya membeli HP berspesifikasi tinggi — lewat Shopee, Tokopedia, atau toko mana pun — untuk menikmati ekosistem buatan Google, saya berhak mendapat antarmuka yang dirancang khusus untuk platform tersebut. Bukan salinan pucat dari antarmuka pesaing. Berhenti memperlakukan Android seperti sekadar layar cadangan untuk memproyeksikan desain iPhone.

Laporan disusun dari beberapa sumber berita terverifikasi. Sudut pandang editorial sepenuhnya milik redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *