Kalau kita bicara soal Motorola, rasanya seperti membicarakan kawan lama yang kadang bikin kita kagum, tapi lebih sering bikin kita mengelus dada. Baru-baru ini, saya sempat mampir ke laman GSMArena dan melihat hasil poling mingguan mereka yang, jujur saja, terasa seperti tamparan keras buat brand legendaris ini. Di awal tahun 2026 yang makin kompetitif ini—di mana brand Tiongkok makin nggak masuk akal kasih spek—jajaran seri G terbaru Motorola, mulai dari Moto G77 sampai si bungsu G17, ternyata dapat sambutan yang cukup dingin. Sebagai orang yang sudah bertahun-tahun mengikuti pasang surut dunia gadget, saya merasa Motorola sekarang benar-benar sedang berdiri di persimpangan jalan yang sangat krusial. Pilihannya cuma dua: adaptasi atau makin tenggelam.
Kita semua sepakat kalau Motorola itu punya “darah” durabilitas yang kuat dan pengalaman Android yang “bersih” alias bloatware-free. Tapi, mari kita jujur pada diri sendiri: di tahun 2026, apakah itu saja cukup buat menggaet pembeli? Hasil poling itu menunjukkan kalau Moto G77 adalah satu-satunya harapan mereka untuk bisa sukses di pasar. Itu pun ada syaratnya, dan syaratnya berat banget: skor review-nya harus benar-benar sempurna tanpa celah. Sementara itu, saudara-saudaranya yang lain? Sepertinya mereka harus berjuang mati-matian supaya nggak cuma jadi penghuni tetap gudang cuci gudang di marketplace kayak Tokopedia atau Shopee dalam hitungan bulan. Sedih sih, tapi itulah kenyataan pahitnya.
Dilema Chipset: Kenapa Harus Dimensity 6400 di Harga Segitu?
Satu hal yang paling banyak didebatkan netizen dalam poling tersebut—dan saya sangat setuju—adalah soal pilihan “jeroan” alias chipset-nya. Moto G77 yang diposisikan sebagai bintang kelas menengah malah datang membawa MediaTek Dimensity 6400. Nah, di sinilah letak keanehannya. Untuk sebuah ponsel yang dibanderol di kisaran harga €300, yang kalau dikonversi ke kurs kita mungkin bakal nangkring di angka Rp 4,9 jutaan atau bahkan lebih, penggunaan chipset seri 6000 itu rasanya kurang “nendang”. Rasanya ada yang kurang pas, seperti beli mobil harga premium tapi mesinnya pakai mesin mobil kota biasa.
Banyak pengguna di kolom komentar berargumen bahwa chipset seri 6000 itu lebih pantas menghuni HP entry-level di harga 2 jutaan. Bayangkan saja, di rentang harga yang sama, kita sudah bisa mendapatkan kompetitor yang berani pakai chipset seri 7 atau bahkan seri 8 lama yang performanya jauh lebih bertenaga buat segala urusan. Kalau kita intip data dari Statista soal tren performa smartphone tahun 2025 kemarin, ekspektasi konsumen terhadap kecepatan prosesor di segmen mid-range itu naik drastis sekitar 25% dibanding dua tahun lalu. Jadi, langkah Motorola yang satu ini memang tergolong sangat berisiko tinggi, kalau nggak mau dibilang nekat.
Terus, kenapa sih Motorola berani ambil langkah ini? Dugaan saya, mereka mungkin ingin mengalihkan anggaran produksinya ke sektor lain yang lebih “menjual” di brosur, yaitu kamera. Tapi masalahnya, buat kita yang hobi main game tipis-tipis atau sering multitasking berat antar aplikasi, chipset itu ibarat jantung. Kalau jantungnya cuma sekelas pelari maraton amatir tapi dipaksa ikut lari di level olimpiade, ya tentu bakal keteteran, kan? Untungnya, kapasitas RAM yang dibawa kabarnya sudah standar 8GB atau 12GB. Ini sedikit banyak bakal membantu “napas” si Dimensity 6400 ini biar nggak terlalu megap-megap saat dipaksa kerja keras.
Satu Kartu AS Bernama 108 Megapiksel: Cukupkah?
Kalau ada satu hal yang bikin Moto G77 ini masih layak dilirik, ya apalagi kalau bukan kamera utamanya yang punya resolusi 108MP. Di segmen harga ini, sensor dengan resolusi setinggi itu memang masih tergolong jarang ditemukan, meski bukan berarti nggak ada lawan sama sekali. Jangan lupa, kita punya Redmi Note 15 yang sudah curi start meluncur tahun lalu dan sukses jadi ganjalan nyata buat Motorola. Persaingan di angka megapiksel ini memang selalu jadi daya tarik instan buat konsumen awam.
Tapi ingat, kamera 108MP ini bukan cuma soal angka gede-gedean di atas kertas saja, lho. Secara teknis, sensor sebesar ini memungkinkan teknologi pixel binning yang lebih optimal. Artinya, foto di kondisi minim cahaya atau low light seharusnya bisa tampil lebih bersih, minim noise, dan tetap tajam. Buat kamu yang hobi hunting foto estetik buat dipamerin di Instagram atau bikin konten TikTok, fitur ini jelas jadi magnet utama. Tapi ya balik lagi ke poin awal, hasil poling itu menegaskan satu hal: kamera bagus saja nggak akan cukup kalau pengalaman pakai sehari-harinya masih terasa laggy atau patah-patah gara-gara chipset yang kurang mumpuni.
“Kamera mungkin bisa menjual satu unit ponsel, tapi pengalaman pengguna yang lancarlah yang akan menjual ponsel berikutnya dari brand yang sama.”
— Analis Gadget Senior, 2026
Motorola sekarang punya tugas berat buat membuktikan kalau optimasi software mereka—yang kita kenal sebagai MyUX—bisa menutupi kekurangan di sisi hardware. Kalau nanti review-review independen menunjukkan hasil jepretan yang luar biasa dan performa yang stabil, mungkin saja orang bakal memaafkan pilihan chipset-nya. Tapi kalau ternyata hasilnya cuma “biasa aja”, ya jangan kaget kalau Moto G77 bakal tenggelam begitu saja di tengah gempuran rilisan brand lain yang lebih agresif.
Nasib Tragis Moto G67 dan G17: Cuma Jadi Pelengkap Katalog?
Sekarang, mari kita geser sedikit ke model yang lebih terjangkau. Kalau Moto G77 masih punya secercah harapan, nasib Moto G67 dan G17 justru terlihat jauh lebih suram di mata netizen. Hasil poling menunjukkan kalau lebih dari setengah pemilih merasa ada banyak banget pilihan mid-range lain yang jauh lebih menarik dibanding G67. Padahal kalau dilihat dari harganya, bedanya cuma tipis, sekitar €260 atau mungkin sekitar Rp 3,8 jutaan kalau masuk ke official store kita di Indonesia.
Masalahnya sebenarnya simpel tapi fatal: G67 kehilangan fitur paling menonjol yang dimiliki kakaknya. Kamera 108MP-nya diganti jadi 50MP biasa dengan sensor yang ukurannya juga standar banget. Nggak ada yang spesial, nggak ada yang bikin kita bilang “wow”. Di pasar Indonesia, di rentang harga segini, kita sudah terlalu dimanjakan oleh brand seperti Poco atau Infinix yang biasanya kasih spek “gila-gilaan” dan layar yang super mulus. Agak sulit membayangkan orang bakal pilih G67 kalau bukan karena mereka memang fans garis keras Motorola yang rindu sama logo M-nya.
Lalu bagaimana dengan si bungsu Moto G17? Ini yang paling kasihan, jujur saja. Dalam poling tersebut, G17 dapat sambutan yang paling dingin dari semuanya. Memang sih, biasanya orang yang ikut poling di situs teknologi luar itu adalah para enthusiast yang nggak mencari HP murah. Tapi tetap saja, data menunjukkan kalau mayoritas pencari HP murah sekalipun nggak akan melirik G17. Menariknya, versi “Power” dari G17 justru punya nasib sedikit lebih baik. Kenapa? Karena kapasitas baterainya yang “badak”. Sepertinya untuk kelas bawah, baterai besar itu masih jadi hukum mutlak yang nggak bisa diganggu gugat oleh fitur apa pun.
Kenapa Motorola Sering Dianggap Overpriced? Sebuah Realita
Salah satu keluhan yang paling sering muncul di kolom komentar poling tersebut—dan ini sering saya dengar juga di komunitas lokal—adalah soal harga. Banyak yang merasa Motorola sekarang jadi terlalu mahal untuk apa yang mereka tawarkan. Laporan dari Canalys pada akhir 2025 menunjukkan bahwa loyalitas konsumen terhadap sebuah brand smartphone sekarang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor value-for-money daripada sekadar nama besar atau sejarah brand tersebut.
Di pasar Indonesia sendiri, Motorola memang punya tantangan yang luar biasa besar. Mereka harus adu jotos dengan Transsion Holdings (Infinix, Tecno, Itel) yang sangat-sangat agresif di rentang harga 1 sampai 3 jutaan. Kalau Motorola tetap bersikeras mempertahankan harga globalnya yang dikonversi langsung ke Rupiah tanpa ada penyesuaian strategi atau promo yang menarik, mereka bakal makin sulit bersaing. Apalagi di Shopee atau Tokopedia, pembeli kita itu sangat sensitif soal perbandingan spek dan harga. Salah langkah sedikit saja, produknya cuma bakal jadi pajangan.
Gajah di Dalam Ruangan: Masalah Update Software yang Menahun
Bukan Motorola namanya kalau nggak dikritik soal update software. Ini sudah jadi rahasia umum yang sayangnya belum juga selesai, kan? Di kolom komentar poling itu, hampir semua orang sepakat kalau Motorola itu lambat banget kalau urusan kasih pembaruan versi Android. Bahkan, kadang ada seri murah yang nggak dikasih update sama sekali. Padahal, kalau kita lihat tetangga sebelah seperti Samsung, mereka sudah berani menjanjikan update sampai 4 atau 5 tahun, bahkan untuk seri menengah mereka. Ini kontras yang sangat nyata.
Dan ini masalah serius, lho, bukan cuma soal dapet fitur baru atau nggak. Di tahun 2026 ini, HP kita bukan cuma alat buat nelepon atau chatting, tapi sudah jadi dompet digital, kunci rumah pintar, sampai identitas digital kita. Tanpa update keamanan yang rutin, HP kita jadi rentan banget sama serangan siber. Selain itu, ada keluhan soal baterai di seri terbaru ini yang mulai sulit diganti sendiri. Meskipun tren industri memang ke arah sana, tapi buat pengguna loyal Motorola yang dulu suka sama kemudahan servis, ini terasa seperti sebuah kemunduran yang mengecewakan.
Saya pribadi merasa Motorola perlu mengubah total strategi after-sales mereka kalau mau tetap relevan. Jangan cuma rajin rilis HP baru tiap beberapa bulan sekali, tapi perhatikan juga nasib pengguna yang sudah terlanjur beli. Kalau konsumen merasa ditinggalkan setelah setahun pemakaian karena nggak dapet perhatian soal software, jangan harap mereka bakal balik lagi buat beli unit Motorola di masa depan. Kepercayaan itu mahal harganya, dan sekali hilang, susah banget buat dibalikin.
Pertanyaan Seputar Motorola Seri G 2026
Apakah Moto G77 sudah mendukung jaringan 5G?
Tentu saja. Berkat penggunaan chipset Dimensity 6400, Moto G77 sudah mendukung konektivitas 5G di berbagai pita frekuensi. Jadi, aman banget buat dipakai sama provider seluler yang ada di Indonesia saat ini.
Berapa perkiraan harga Moto G77 di Indonesia?
Kalau kita mengacu pada harga globalnya yang ada di kisaran €300, kemungkinan besar Moto G77 akan dijual di rentang Rp 4.700.000 hingga Rp 5.200.000. Harga pastinya tentu akan tergantung pada konfigurasi memori yang mereka bawa masuk nanti.
Apakah seri Moto G terbaru ini masih punya lubang audio 3.5mm?
Kabar baik buat pecinta kabel! Motorola masih mempertahankan jack audio 3.5mm pada seri G67 dan G17. Namun, untuk seri flagship mereka di kelas ini, yaitu G77, kabarnya lubang tersebut sudah mulai dihilangkan demi mengejar desain bodi yang lebih tipis dan modern.
Kesimpulan: Harapan Itu Masih Ada, Tapi Jalannya Terjal
Jadi, pertanyaannya: apakah Motorola Moto G77 dan kawan-kawannya ini bakal gagal total di pasaran? Saya bilang sih belum tentu. Dunia gadget itu penuh dengan kejutan yang nggak terduga. Kadang, ada sebuah HP yang kalau dilihat di atas kertas speknya biasa saja, tapi ternyata sangat nyaman dan memuaskan saat dipakai di dunia nyata gara-gara optimasi software-nya yang jempolan. Motorola punya peluang besar di situ. Mereka punya antarmuka yang paling mendekati “Pixel Experience”—bersih, ringan, dan simpel—tapi dengan harga yang jauh lebih ramah di kantong.
Namun, mereka nggak bisa cuma terus-terusan mengandalkan rasa nostalgia atau nama besar masa lalu. Pasar sudah berubah total. Orang-orang sekarang makin pintar dan rajin membandingkan spek di marketplace sebelum mereka klik tombol ‘Beli Sekarang’. Moto G77 butuh review yang benar-benar luar biasa positif untuk bisa meyakinkan orang bahwa kamera 108MP-nya itu sepadan dengan pilihan chipset yang mungkin terasa agak kurang bertenaga buat sebagian orang. Kalau mereka gagal meyakinkan pasar, tahun 2026 mungkin akan jadi tahun yang sangat berat bagi brand berlambang ‘M’ ini.
Ngomong-ngomong, kalau menurut kamu sendiri gimana? Masih ada minat nggak buat meminang Motorola kalau spek dan harganya seperti ini? Atau kamu merasa mending pilih brand sebelah yang speknya lebih ‘war-ready’ buat tempur? Coba tulis pendapatmu ya, karena pada akhirnya, suara kita sebagai konsumenlah yang bakal menentukan siapa yang tetap bertahan di rak toko dan siapa yang cuma bakal masuk ke dalam kotak sejarah.
Artikel ini disusun berdasarkan informasi dari berbagai media nasional dan internasional, termasuk hasil survei dari komunitas gadget global. Analisis dan sudut pandang yang disajikan merupakan perspektif murni dari tim editorial kami.