Coba ingat-ingat lagi, kapan terakhir kali seseorang di tongkronganmu heboh pamer beli tablet baru Kemungkinan besar sudah lama sekali. Pasar tablet memang sedang babak belur, dan angka terbarunya, per pertengahan 2025, cukup bikin orang garuk-garuk kepala.
Dikutip dari GSMArena yang merilis laporan terbarunya awal tahun ini, sepanjang 2025 pasar tablet di India, salah satu barometer gadget terbesar di Asia – mengalami kontraksi brutal sebesar 21,7 persen dibandingkan tahun 2024. Total pengiriman mentok di angka 4,4 juta unit. Angka ini selaras dengan tren global yang memang lesu sejak euforia work-from-home era pandemi resmi memudar.
Tapi justru di tengah lautan rapor merah itu, ada anomali yang susah diabaikan. Lenovo dan Xiaomi malah tumbuh subur. Keduanya sukses berenang melawan arus ketika raksasa seperti Apple justru mencatatkan penurunan, dan Acer bahkan terjun bebas. Fenomena ini bukan cuma soal angka di atas kertas; ini potret nyata pergeseran cara kita; ya, termasuk kita di Indonesia; dalam memandang fungsi sebuah tablet hari ini.
iPad makin mahal, makin sulit dibela
Samsung masih duduk nyaman di singgasana dengan penguasaan 37,2 persen pangsa pasar dan 1,6 juta unit pengiriman. Posisi yang masuk akal – mereka punya lini Galaxy Tab A yang laris untuk pelajar, sampai Tab S series yang jadi pilihan default pekerja kantoran. Tapi cerita yang lebih menarik justru ada di bawah mereka.
Apple menempati posisi keempat dengan 540.000 unit dan 12 persen pangsa pasar, dengan penjualan yang tergerus 14 persen year-on-year. Sinyal bahaya yang nyata. Harga iPad terbaru sekarang sudah setara; atau bahkan melampaui — harga MacBook Air yang mumpuni.
Ketika kondisi ekonomi global sedang serba tidak pasti, mengeluarkan 15 sampai 20 juta rupiah untuk perangkat dengan sistem operasi (iPadOS) yang masih sangat membatasi produktivitas level desktop terasa susah dibenarkan bagi kebanyakan orang. Bukan barangnya jelek. Value proposition-nya yang mulai goyah. Laporan dari riset pasar global Counterpoint juga mengindikasikan bahwa siklus upgrade perangkat premium kini makin panjang – konsumen, dalam banyak kasus, lebih memilih menahan dompet mereka daripada menelan harga yang terasa tidak sebanding.
Lebih parah lagi nasib Acer. Berada di posisi kelima, penjualannya ambles 68,8 persen. Nyaris tujuh puluh persen. Ini bukti keras bahwa bermain di zona abu-abu — tidak sepremium Apple, tapi juga tidak seagresif brand Tiongkok dalam urusan harga, adalah resep bunuh diri di pasar teknologi 2025. Tanggung di atas, kalah di bawah.
Spek selangit, harga masih bisa ditoleransi: rumus xiaomi yang sulit dibantah
Nah, sekarang kita masuk ke bagian yang seru. Kenapa Xiaomi bisa tumbuh 12,1 persen dan mengamankan posisi ketiga Jawabannya sangat relevan dengan kebiasaan belanja orang Indonesia: jeroan yang brutal, harga yang tidak mencekik.
Kalau kamu sering scrolling di Tokopedia atau Shopee, kamu pasti familiar dengan betapa agresifnya Xiaomi memasarkan jajaran tablet mereka. Ambil contoh seri Xiaomi Pad 6 atau lini penerusnya yang berseliweran di pasaran. Dengan modal sekitar Rp 5–6 jutaan di official store, kamu sudah mendapat tablet dengan chipset kelas atas (lini Snapdragon seri 8), layar resolusi tinggi dengan refresh rate 144Hz, dan fast charging yang ngebut. Dalam praktiknya, ketika langsung dicoba, responsivitas layarnya terasa lebih dekat ke pengalaman iPad Pro daripada yang harganya mau mengakui.
Bandingkan dengan iPad 10th Gen yang di iBox masih nangkring di harga lebih tinggi, dengan spesifikasi layar dan storage dasar yang sering kali terasa pelit. Buat kaum mendang-mending di forum-forum gadget lokal, pilihan ini sudah bulat. Xiaomi menang telak di hitung-hitungan rasional – menawarkan benchmark tinggi yang diburu gamers, sekaligus balutan aluminium premium yang tidak malu-maluin dibawa rapat.
Lenovo tumbuh paling kencang tanpa banyak ribut – ini alasannya
Lalu ada Lenovo. Tumbuh paling meroket, 28,9 persen dari tahun ke tahun, dengan total 666.000 unit pengiriman di India. Kalau kita sempitkan ke data kuartal keempat (Q4) 2025 saja, angkanya bahkan lebih gila: melesat 56,5 persen.
Ada komentar dari salah satu pembaca di situs sumber laporan tersebut yang cukup mewakili kebingungan publik. Bunyinya kurang lebih: “Aneh banget, orang jarang beli tablet Lenovo. Jarang masuk berita, jarang ada review di YouTube, tapi penjualannya kok gila-gilaan.”
Persepsi itu bisa dimengerti, tapi juga keliru. Kita terlalu sering lupa bahwa pasar ritel (konsumen yang beli perangkat untuk diri sendiri) hanyalah satu sisi mata uang. Lenovo sudah lama piawai bermain di sektor B2B (Business-to-Business) dan edukasi. Proyek pengadaan tablet untuk sekolah, rumah sakit, dan armada logistik biasanya jatuh ke tangan mereka lewat lini Lenovo Tab M series yang murah meriah dan, penting sekali, tahan banting saat dipakai tangan-tangan yang kurang bersahabat.
Untuk pasar enthusiast, Lenovo punya senjata lain: Legion Y700 (atau varian sejenisnya). Tablet gaming berukuran 8,8 inci ini selalu jadi barang buruan mobile gamers yang tahu apa yang mereka cari. Ukurannya pas di tangan, tidak kebesaran seperti tablet 11 inci, tapi jauh lebih lega dari layar HP biasa. Cooling system yang disematkan di dalamnya memungkinkan performa chipset digeber maksimal tanpa drama frame drop saat main Genshin Impact atau PUBG Mobile rata kanan. Strategi membelah pasar inilah yang membuat Lenovo sukses besar tanpa harus repot-repot bikin kampanye marketing yang berisik.
Analis IDC sudah melihat ini sejak lama: tablet bukan lagi layar besar untuk rebahan
Pergeseran ini sebenarnya sudah terbaca oleh para analis jauh sebelum angkanya masuk laporan. Priyansh Tiwari, Research Analyst di IDC India South Asia, memberikan pandangan yang tajam terkait fenomena ini:
Priyansh Tiwari, IDC
“Integrasi 5G, fitur produktivitas berbasis AI, dan kemampuan smart note-taking memposisikan ulang tablet dari sekadar alat konsumsi media menjadi perangkat produktivitas harian. Seiring naiknya harga notebook, tablet detachable (dengan keyboard lepas-pasang) muncul sebagai alternatif praktis dan hemat biaya bagi pelajar dan profesional muda.”
Pernyataan Tiwari merangkum semuanya dengan rapi. Dulu, tablet identik dengan rebahan sambil nonton Netflix. Sekarang Ekspektasinya sudah bergeser total, dan siapa yang tidak mengikuti pergeseran itu, tertinggal.
Ketika harga laptop entry-level merangkak naik imbas inflasi dan kendala rantai pasok global — seperti yang berulang kali disorot dalam liputan mendalam terkait rantai pasok perangkat keras – tablet yang bisa dipasangi keyboard magnetik tiba-tiba naik kelas. Mahasiswa yang butuh ngetik skripsi di kafe, atau copywriter yang butuh perangkat ringan buat revisi naskah di kereta KRL, menemukan jawaban di tablet Android kelas menengah. Lebih ringan dari laptop, lebih fungsional dari HP. Titik manis yang selama ini tidak ada namanya.
Fitur AI juga bukan lagi sekadar bumbu pemanis. Sepanjang 2025, integrasi AI generatif di sistem operasi makin matang dan, ini kuncinya – makin terasa berguna dalam pemakaian nyata. Aplikasi note-taking sekarang bisa otomatis merapikan tulisan tangan berantakan dari stylus, membuat ringkasan rapat seketika, atau membantu generate draf email profesional dalam hitungan detik. Bukan lagi gimmick demo panggung. Ini kebutuhan harian.
Whistel dan pemain Ultra-Budget: bukti bahwa celah selalu ada
Ada satu detail kecil tapi signifikan dari laporan Q4 2025 yang layak disebut. Muncul nama brand bernama Whistel di posisi kelima, dengan pertumbuhan yang hampir tidak masuk akal: 292,7 persen dibandingkan Q4 tahun sebelumnya. Tiga ratus persen. Hampir.
Ini bukan kebetulan. Ini bukti bahwa ruang untuk pemain baru – atau pemain lokal di masing-masing pasar; selalu terbuka, asalkan harganya tidak mengusik logika. Di Indonesia, pola serupa terlihat dengan munculnya kembali brand seperti Advan atau itel (meski bukan lokal, tapi bermain di ultra-budget) yang merilis tablet sejutaan untuk kebutuhan kasir UMKM atau perangkat belajar daring anak TK. Volumenya masif. Margin-nya tipis. Tapi pasarnya nyata dan tidak akan kemana-mana.
Membaca tren: panduan praktis sebelum kamu checkout
Apakah ini waktu yang tepat beli tablet di 2026?
Tergantung kebutuhanmu – dan jawaban jujurnya adalah: mungkin tidak, kalau hanya untuk scroll TikTok. HP kamu sudah lebih dari cukup untuk itu. Tapi kalau laptopmu terasa terlalu berat untuk dibawa commute harian, dan kamu butuh alat yang seamless buat ngetik ringan plus meeting online, tablet Android kelas menengah saat ini adalah sweet spot yang sulit disangkal.
Mending iPad atau tablet Android?
Kalau ekosistem kerjamu; MacBook, iPhone, AirPods – sudah sangat mengikat, iPad tetap tidak tergantikan. Fitur AirDrop dan Universal Control bukan sekadar gimmick; dalam praktik kerja sehari-hari, keduanya menghemat waktu yang nyata. Tapi kalau kamu mencari value for money murni, spesifikasi paling kencang dengan harga paling masuk akal, Xiaomi, Lenovo, atau Samsung Galaxy Tab FE series akan jauh lebih menghargai isi dompetmu.
Seberapa penting aksesoris resmi?
Sangat penting, dan ini sering luput dari perhitungan awal. Tablet tanpa keyboard case dan stylus di tahun 2026 ibarat motor tanpa spion; bisa jalan, tapi pengalamannya tidak utuh. Pastikan saat menghitung budget, harga aksesoris sudah masuk kalkulasi. Beberapa brand seperti Samsung berbaik hati menyertakan S-Pen gratis dalam boks — sesuatu yang harus kamu beli terpisah seharga jutaan rupiah kalau memilih Apple.
Siapa yang bertahan: pabrikan yang paham cara kerja konsumen urban
Penurunan 21,7 persen bukan tanda kiamat bagi industri tablet. Ini proses seleksi alam yang kejam – dan memang seharusnya begitu. Era di mana pabrikan bisa merilis tablet spesifikasi pas-pasan dengan harga mahal hanya bermodal nama besar sudah resmi tutup buku.
Konsumen hari ini jauh lebih cermat. Mereka membaca review, membandingkan skor benchmark, dan berhitung detail sebelum menekan tombol checkout. Lenovo dan Xiaomi membuktikan bahwa selama pabrikan bisa menghadirkan alat kerja yang fungsional, bertenaga, dan harganya tidak mencekik leher, produk itu pasti terserap pasar, bahkan di tengah kontraksi sekalipun.
Pertarungan berikutnya, hampir pasti, akan bergeser ke ranah perangkat lunak. Siapa yang bisa menghadirkan pengalaman multitasking paling mirip PC Windows atau Mac di atas layar sentuh 11 inci, tanpa kompromi yang memalukan – dialah yang akan memenangkan hati konsumen urban. Dan untuk saat ini, sepertinya pabrikan Asia lebih mengerti cara memenangkan permainan itu tanpa harus membuat pembelinya puasa sebulan penuh.
Dikompilasi dari liputan berbagai media. Komentar editorial mencerminkan perspektif redaksi kami.